SELAMAT DATANG DI BLOGSPOT KOOR AMATOLU HKBP BALIGE

Selasa, 05 Juli 2011

DILEMA SEORANG GURU

GURU, akar katanya berasal dari bahasa Sansekerta. Orang yang kerjanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan kebaikan. Di zaman klasik, mereka dinamakan empu. Satu kaum dari kalangan yang selalu berbuat baik dan berguna bagi negara, raja, dan orang lain.

Dengarlah sebuah lagu, yang liriknya bernuansa ilham dan melodinya bagus: "Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru//namamu akan selalu hidup dalam sanubariku//engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa." Syair yang terbantun dalam senandung tersebut sungguh-sungguh berisi pemujaan kepada orang bijak yang digugu dan ditiru.

Kendati kini guru tidak tepat lagi disematkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab banyak sudah ragam tanda jasa disediakan pemerintah untuk disematkan bagi para bapak dan ibu guru yang pintar mengabdi.

Tapi bukan karena itu juga, mungkin, maka lagu mars berjudul Hymne Guru ciptaan Sartono itu liriknya harus dipertanyakan. Prasasti terima kasih untuk pengabdian guru, apa boleh buat, ternyata dapat terkikis karena sebuah cela.

Mari kita simak kisah tentang kecerdasan seorang murid SD Negeri Gadel 2, Desa Tandes, Surabaya, yang disalahgunakan oleh gurunya sendiri. Sang guru minta si murid untuk curang. Kecurangannya, memberi contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional. Si murid yang merasa perintah sang guru bertentangan dengan hati nurani dalam sanubarinya kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada ibu kandungnya. Sebuah kisah yang tragis!

Di satu sisi, Undang-undang Dasar 1945 mengamanahkan bahwa alokasi anggaran untuk sektor pendidikan paling kurang 20 persen dari jumlah total anggaran. Lalu, ada pula program pemerintah bertajuk Indonesia Mengajar, yang menyaratkan ketersediaan tenaga pendidik untuk menyebarkan kejujuran dan kebaikan dengan cara menyumbangkan ilmu pengetahuan ke seantero penjuru Tanah Air.

Di sisi lain, muncul "nila setitik" di SD Negeri Gadel 2 dalam "susu sebelanga" Kementerian Pendidikan Nasional, yang dalam sebuah jajak pendapat secara meyakinkan dinilai sebagai nomenklatur (penyelenggara pemerintahan) tertinggi yang masih dipercayai warga negeri ini.

Jadi ada baiknya bila kita ingat kembali sosok tokoh muda yang berani. Aktivis mahasiswa terkemuka itu pernah berdebat melawan gurunya di depan kelas. Karena perdebatan itu, dia menulis sebuah catatan. "Guru bukan dewa dan murid bukan kerbau!" katanya.

Sebelum tewas di gunung, dia juga akhirnya mengabdikan diri sebagai guru. Tepatnya jadi mahaguru atau dosen, pengajar mahasiswa di Universitas Indonesia. Penulis kata-kata "guru bukan dewa dan murid bukan kerbau" itu pencatat yang tekun, penulis yang ulung. Namanya, Soe Hok Gie.

Cuma, itulah, tokoh seberani Gie sudah tak ada lagi di sini, kini. Kita lebih banyak mengenal sosok mirip si kerbau yang senantiasa jadi murid yang patuh menuruti saja titah sang dewa. Akhirnya orang lain pun menakar dengan pantasnya di mana kelas kita.
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar