Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. (Mazmur 6:2)
Saudara yang terkasih, ada saat ketika kita jatuh, gagal dan merasa terpuruk. Ada saat ketika semua yang kita lakukan tidak berarti apapun bagi sesama kita dan ada saat ketika setiap orang memandang kita negatif, segala yang kita lakukan dianggap salah. Pengalaman yang seperti ini pasti menyakitkan dan akan berpengaruh dalam interaksi sosial baik secara fisik maupun mental.
Pengalaman inilah yang sedang dihadapi oleh pemazmur. Musuhnya yang datang dari Kush, orang Benyamin itu hampir saja menginjak-injak dia dan menaruh kemuliaannya ke dalam debu. Tetapi satu hal yang menarik dari pengalaman pemazmur bahwa ternyata dia mampu menyaksikan bahwa Allah itu hakim yang adil. Allah sanggup menjawab segala perkaranya dan Allah akan tetap mengasihinya. Sekalipun di dalam pergumulan itu, dia mau mengevaluasi diri dan mengaku dosanya di hadapan Tuhan serta memohon keampunan atas dosa-dosanya.
Saudara yang terkasih bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai anak-anak Allah? Di dalam menghadapi pergumulan, perselisihan, penderitaan, apakah kita datang ke hadapan Tuhan dan memintaNya untuk menyelesaikan perkara kita? Namun kenyataannya kebanyakan orang tidak mau melibatkan Tuhan dalam setiap perkaranya karena mereka tidak mau mengaku dosa-dosanya, selalu merasa benar dalam setiap tindakannya dan akhirnya menghujat Tuhan di dalam masalah itu.
Oleh karena itu, Firman Tuhan yang kita saksikan hari ini mengajak kita agar kita mau menyerahkan diri penuh kepada Tuhan di dalam setiap masalah yang kita hadapi di dalam pelayanan, pekerjaan, studi, keluarga dan persekutuan kita dengan terlebih dahulu mengaku segala kelemahan kita, kekurangan dan dosa yang kita lakukan. Dengan demikianlah lahir pengakuan bahwa Allah itu Hakim yang adil. Amin





Tidak ada komentar:
Posting Komentar